JUMROH

JUMROH

Melempar jumroh adalah bagian dari ibadah haji yang harus dilakukan alias masuk dalam lingkup wajib haji. Karena itu, andaikata tidak melaksanakannya akan dikenakan dam berupa seekor kambing.
Namun, pelaksanaan melempar jumroh juga bisa diwakilkan kepada orang lain, jika memang sudah uzur seperti sudah sangat tua, sakit dan lain-lain. Syaratnya, yang melakukan lemparan harus sudah melakukan lontaran terlebih dahulu.

Waktu Melempar Jumroh
Di dalam pelaksaan, melempar jumroh terbagi pada dua jenis.

1. Jumroh aqobah.
Pelaksaannya dilakukan pada 10 Dzulhijjah dengan melemparkan tujuh batu kerikil ke marma (dinding) jumruh aqobah. Pelaksanaan lontaran yang afdhal dilakukan di saat-saat waktu shalat dhuha. Namun, batas terakhir waktunya hingga terbit fajar pada tanggal 11 Dzulhijjah

2. Jumroh ula, wustha dan aqobah.
Pelaksaannya dilakukan pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Penting menjadi catatan, jika melakukan nafar awal, maka melempar jumroh hanya dilakukan hingga tanggal 12 Dzulhijjah saja.
Sedangkan yang melakukan nafar tsani maka melempar jumroh dilakukan hingga tangga 13 Dzulhijjah. Adapun pelaksaannya sama dengan jumroh aqobah yang dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah dengan melemparkan tujuh buah batu kerikil ke marma (dinding) jumroh.

Tips Aman Melontar
Sudah sering terdengar kabar, ada orang yang wafat saat melempar dikarenakan padat atau terhimpit. Oleh karena itu, diperlukan tips aman untuk menghindari hal tersebut.
1. Hendaklah melempar jumroh di waktu yang telah dianjurkan oleh petugas haji yang ada di Mina.
2. Berjalanlah menuju tempat lontaran dengan tidak terburu-buru dan melawan arus.
3. Pilihlah tempat yang agak sepi. Biasanya, mendekati ujung tembok tempat melempar tidak terlalu dipadati orang untuk melontar.
4. Usahakan jangan melempar jumroh di dekat orang-orang yang berbadan tegap dan tinggi dari negara lain.

Sejarah Melempar Jumroh
Sejatinya, melempar jumrah yang dilakukan saat menunaikan ibadah haji adalah mengenang peristiwa nabi Ibrahim as. kala diganggu setan, saat ingin menyembelih putranya. Tiga kali melontar jumrah adalah lambang bahwa nabi Ibrahim tiga kali diganggu oleh setan dan beliau tiga kali melemparinya.
Maka, dengan pengenangan historinya tidak sedikit orang yang emosi saat melempar jumrah hingga terkadang mereka melemparnya bukan lagi dengan batu, tapi dengan payung, sandal, sepatu dan lain-lain. Padahal, yang diajarkan oleh Rasulullah adalah melempar dengan tujuh batu kerikil.  
Demikianlah penjelasan ihwal melempar jumrah, sejarah dan tips-nya. Semoga bermanfaat. Amin 

Kesalahan Dalam Melempar Jumrah

  1. Ketika melempar jumrah, ada sebagian jama’ah haji yang beranggapan, bahwa mereka  sedang melempar setan. Maka mereka melemparnya dengan penuh kemarahan disertai caci maki terhadapnya. Padahal melempar jumrah itu semata-mata disyariatkan dalam rangka zikir kepada Allah.
  2. Sebagian mereka melempar jumrah dengan batu besar, sepatu, atau dengan kayu.mni adalah perbuatan berlebih-lebihan dalam masalah agama, yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang disyariatkan dalam melemparnya hanyalah dengan batu-batu kecil sebesar kacang Arab.
  3. Berdesak-desakkan dan pukul-memukul di dekat tempat-tempat jumrah untuk dapat melempar. Sedang yang disyari’atkan adalah agar melempar dengan tenang dan hati-hati, dan berusaha semampu mungkin tidak menyakiti orang lain.
  4. Melemparkan batu-batu tersebut seluruhnya sekaligus, menurut pendapat para ulama hal seperti itu hanya dihitung satu batu saja. Yang disyariatkan adalah melemparkan batu satu-persatu sambil bertakbir pada setiap lemparan.
  5. Mewakilkan untuk melempar, sedangkan ia sendiri mampu, karena menghindari kesulitan dan desak-desakkan. Padahal mewakilkan untuk melempar itu hanya dibolehkan jika ia sendiri tidak mampu karena sakit atau semacamnya.
Sumber : Petunjuk Haji dan Umrah, Kantor Dakwah Dan Penyuluhan, Al Sulay – Riyadh
Kumpulan Doa Ibadah Haji

Ibadah haji memerlukan persiapan sempurna: jasmani dan rohani. Dengan niat menunaikan rukun islam kelima, para calon harus lurus niat sehingga iman dan taqwa akan senantiasa menuntun langkah beribadah haji mencapai haji mabrur.

Kepada para calon yang berkesempatan segera menunaikan panggilan Allah SWT semoga terjaga kesehatan dan selama di tanah suci mampu menunaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Dan, kembali di tanah air dengan selamat dan sehat bertemu keluarga dalam rahmat Allah SWT. Amiin.

Doa dalam Teks Arab, Latin, dan Terjemah
Untuk melihat
  • klik pilihan,
  • bila teks sudah tampak dan ingin menyimpan silakan klik kanan kemudian klik “save picture as”.
  • Teks ini tautan langsung ke website  http://haji.kemenag.go.id/doa-haji.

Doa'a-Do'a Haji PDF Print Email
- Do'a Ihram

Doa dalam MP3
  1. Niat-umrah
  2. Niat-haji
  3. Doa-sewaktu-kendaraan-bergerak
  4. Doa-waktu-diatas-kendaraan
  5. Doa-ketika-tiba-ditujuan
  6. Doa-keluarrumah
  7. Doa-wukuf
  8. Doa-selesai-melaksanakan_umrah haji
  9. Doa-menggunting-rambut
  10. Doa-sampai-di-tanahair
  11. Doa-sai
  12. Doa-masuk-masjidnabawi
  13. Doa-memasuki-kotamakkah
  14. Doa-melontarjumrah
  15. Doa-memasuki-kota-madinah
  16. Doa-masuk-arafah
  17. Doa-masuk-masjidilharam
  18. Doa-ketikasampai-d-imuzdalifah
  19. Doa-ketikasampai-di-mina
  20. Doa-ihram
  21. Doa-ketika-melihat-kabah
  22. Doa-thawaf-tiapperjalanan-dari-hajar-aswad-ke-rukun-yamani
  23. Talbiyah-rame
  24. Talbiyah

Zam-Zam

 RAHASIA KHASIAT AIR ZAM ZAM

Selama ini kita mengenal sumur Zamzam dari buku-buku agama. Namun sebenarnya ada sisi ilmiah saintifiknya juga looh. Cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang air adalah hydrogeologi.

Sumur Zamzam
Khasiat air Zam-zam tentunya bukan disini yang mesti menjelaskan, tapi kalau dongengan geologi sumur Zam-zam mungkin bisa dijelaskan disini. Sedikit cerita Pra-Islam, atau sebelum kelahiran Nabi Muhammad, diawali dengan kisah Isteri dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar, yang mencari air untuk anaknya yang cerita. Sumur ini kemudian tidak banyak atau bahkan tidak ada ceritanya, sehingga sumur ini dikabarkan hilang.
Sumur Zam-zam yang sekarang ini kita lihat adalah sumur yang digali oleh Abdul Muthalib kakeknya Nabi Muhammad. Sehingga saat ini, dari “ilmu persumuran” maka sumur Zam-zam termasuk kategori sumur gali (Dug Water Well).

Dimensi dan Profil Sumur Zam-zam
Bentuk sumur Zam-zam dapat dilihat dibawah ini.
Bentuk sumur Zam-zam
Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30.5 meter. Hingga kedalaman 13.5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori. Lapisan ini berisi batupasir hasil transportasi dari lain tempat. Mungkin saja dahulu ada lembah yang dialiri sungai yang saat ini sudah kering. Atau dapat pula merupakan dataran rendah hasil runtuhan atau penumpukan hasil pelapukan batuan yang lebih tinggi topografinya.

Mata air zamzam

Dibawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim ini terdapat setengah meter (0.5 m) lapisan yang sangat lulus air (permeable). Lapisan yang sangat lulus air inilah yang merupakan tempat utama keluarnya air-air di sumur Zam-zam.

Mata air zamzam
Kedalaman 17 meter kebawah selanjutnya, sumur ini menembus lapisan batuan keras yang berupa batuan beku Diorit. Batuan beku jenis ini (Diorit) memang agak jarang dijumpai di Indonesia atau di Jawa, tetapi sangat banyak dijumpai di Jazirah Arab. Pada bagian atas batuan ini dijumpai rekahan-rekahan yang juga memiliki kandungan air. Dulu ada yang menduga retakan ini menuju laut Merah. Tetapi tidak ada (barangkali saja saya belum menemukan) laporan geologi yang menunjukkan hal itu.
Dari uji pemompaan sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11 – 18.5 liter/detik, hingga permenit dapat mencapai 660 liter/menit atau 40 000 liter per jam. Celah-celah atau rekahan ini salah satu yang mengeluarkan air cukup banyak. Ada celah (rekahan) yang memanjang kearah hajar Aswad dengan panjang 75 cm denga ketinggian 30 cm, juga beberapa celah kecil kearah Shaffa dan Marwa.
Keterangan geometris lainnya, celah sumur dibawah tempat Thawaf 1.56 m, kedalaman total dari bibir sumur 30 m, kedalaman air dari bibir sumur = 4 m, kedalaman mata air 13 m, Dari mata air sampai dasar sumur 17 m, dan diameter sumur berkisar antara 1.46 hingga 2.66 meter.

Air hujan sebagai sumber berkah

Air hujan sebagai sumber berkah
Kota Makkah terletak di lembah, menurut SGS (Saudi Geological Survey) luas cekungan yang mensuplai sebagai daerah tangkapan ini seluas 60 Km2 saja, tentunya tidak terlampau luas sebagai sebuah cekungan penadah hujan. Sumber air Sumur Zam-zam terutama dari air hujan yang turun di daerah sekitar Makkah.
Sumur ini secara hydrologi hanyalah sumur biasa sehingga sangat memerlukan perawatan. Perawatan sumur ini termasuk menjaga kualitas higienis air dan lingkungan sumur serta menjaga pasokan air supaya mampu memenuhi kebutuhan para jamaah haji dan umrah di Makkah. Pembukaan lahan untuk pemukiman di seputar Makkah sangat ditata rapi untuk menghindari berkurangnya kapasitas sumur ini.


lokasi sumur Zamzam
Gambar diatas ini memperlihatkan lokasi sumur Zamzam yang terletak ditengah lembah yang memanjang. Masjidil haram berada di bagian tengah diantara perbukitan-perbukitan disekitarnya. Luas area tangkapan yang hanya 60 Km persegi ini tentunya cukup kecil untuk menangkap air hujan yang sangat langka terjadi di Makkah, sehingga memerlukan pengawasan dan pemeliharaan yang sangat khusus.
Sumur Zamzam ini, sekali lagi dalam pandangan (ilmiah) hidrogeologi , hanyalah seperti sumur gali biasa. Tidak terlalu istimewa dibanding sumur-sumur gali lainnya. Namun karena sumur ini bermakna religi, maka perlu dijaga. Banyak yang menaruh harapan pada air sumur ini karena sumur ini dipercaya membawa berkah. Ada yang menyatakan sumur ini juga bisa kering kalau tidak dijaga. Bahkan kalau kita tahu kisahnya sumur ini diketemukan kembali oleh Abdul Muthalib (kakeknya Nabi Muhammad SAW) setelah hilang terkubur 4000 tahun (?).
Dahulu diatas sumur ini terdapat sebuah bangunan dengan luas 8.3 m x 10.7 m = 88.8 m2. Antara tahun 1381-1388 H bangunan ini ditiadakan untuk memperluas tempat thawaf. Sehingga tempat untuk meminum air zamzam dipindahkan ke ruang bawah tanah. Dibawah tanah ini disediakan tempat minum air zam-zam dengan sejumlah 350 kran air (220 kran untuk laki-laki dan 130 kran untuk perempuan), ruang masuk laki perempuan-pun dipisahkan.


Monitoring dan pemeliharaan sumur Zamzam
Saat ini bangunan diatas sumur Zam-Zam yang terlihat gambar diatas itu sudah tidak ada lagi, bahkan tempat masuk ke ruang bawah tanah inipun sudah ditutup. Sehingga ruang untuk melakukan ibadah Thawaf menjadi lebih luas. Tetapi kalau anda jeli pas Thawaf masih dapat kita lihat ada tanda dimana sumur itu berada. Sumur itu terletak kira-kira 20 meter sebelah timur dari Ka’bah.

Monitoring dan pemeliharaan sumur Zamzam

Jumlah jamaah ke Makkah tiga puluh tahun lalu hanya 400 000 pertahun (ditahun 1970-an), terus meningkat menjadi lebih dari sejuta jamaah pertahun di tahun 1990-an, Dan saat ini sudah lebih dari 2.2 juta. Tentunya diperlukan pemeliharaan sumur ini yang merupakan salah satu keajaiban dan daya tarik tersendiri bagi jamaah haji.
Pemerintah Saudi tentunya tidak dapat diam pasrah saja membiarkan sumur ini dipelihara oleh Allah melalui proses alamiah. Namun pemerintah Arab Saudi yang sudah moderen saat ini secara ilmiah dan saintifik membentuk sebuah badan khusus yang mengurusi sumur Zamzam ini. Sepertinya memang Arab Saudi juga bukan sekedar percaya saja dengan menyerahkan ke Allah sebagai penjaga, namun justru sangat meyakini manusialah yang harus memelihara berkah sumur ini.


Sistem Pompa
Pada tahun 1971 dilakukan penelitian (riset) hidrologi oleh seorang ahli hidrologi dari Pakistan bernama Tariq Hussain and Moin Uddin Ahmed. Hal ini dipicu oleh pernyataan seorang doktor di Mesir yang menyatakan air Zamzam tercemar air limbah dan berbahaya untuk dikonsumsi. Tariq Hussain (termasuk saya dari sisi hidrogeologi) juga meragukan spekulasi adanya rekahan panjang yang menghubungkan laut merah dengan Sumur Zam-zam, karena Makkah terletak 75 Kilometer dari pinggir pantai. Menyangkut dugaan doktor mesir ini, tentusaja hasilnya menyangkal pernyataan seorang doktor dari Mesir tersebut, tetapi ada hal yang lebih penting menurut saya yaitu penelitian Tariq Hussain ini justru akhirnya memacu pemerintah Arab Saudi untuk memperhatikan Sumur Zamzam secara moderen. Saat ini banyak sekali gedung-gedung baru yang dibangun disekitar Masjidil Haram, juga banyak sekali terowongan dibangun disekitar Makkah, sehingga saat ini pembangunannya harus benar-benar dikontrol ketat karena akan mempengaruhi kondisi hidrogeologi setempat.
Badan Riset sumur Zamzam yang berada dibawah SGS
(Saudi Geological Survey) bertugas untuk:
  • Memonitor dan memelihara untuk menjaga jangan sampai sumur ini kering.
  • Menjaga urban disekitar Wadi Ibrahim karena mempengaruhi pengisian air.
  • Mengatur aliran air dari daerah tangkapan air (recharge area).
  • Memelihara pergerakan air tanah dan juga menjaga kualitas melalui bangunan kontrol.
  • Meng-upgrade pompa dan dan tangki-tangki penadah.
  • Mengoptimasi supplai dan distribusi airZam-zam
Perkembangan perawatan sumur Zamzam.
Dahulu kala, zamzam diambil dengan gayung atau timba, namun kemudian dibangunlah pompa air pada tahun 1373 H/1953 M. Pompa ini menyalurkan air dari sumur ke bak penampungan air, dan diantaranya juga ke kran-kran yang ada di sekitar sumur zamzam.
Uji pompa (pumping test) telah dilakukan pada sumur ini, pada pemompaan 8000 liters/detik selama lebih dari 24 jam memperlihatkan permukaan air sumur dari 3.23 meters dibawah permukaan menjadi 12.72 meters dan kemudian hingga 13.39 meters. Setelah itu pemompaan dihentikan permukaan air ini kembali ke 3.9 meters dibawah permukaan sumur hanya dalam waktu 11 minut setelah pompa dihentikan. Sehingga dipercaya dengan mudah bahwa akifer yang mensuplai air ini berasal dari beberapa celah (rekahan) pada perbukitan disekitar Makkah.
Banyak hal yang sudah dikerjakan pemerintah Saudi untuk memelihara Sumur ini antara lain dengan membentuk badan khusus pada tahun 1415 H (1994). dan saat ini telah membangun saluran untuk menyalurkan air Zam-zam ke tangki penampungan yang berkapasitas 15.000 m3, bersambung dengan tangki lain di bagian atas Masjidil Haram guna melayani para pejalan kaki dan musafir. Selain itu air Zam-zam juga diangkut ke tempat-tempat lain menggunakan truk tangki diantaranya ke Masjidil Nabawi di Madinah Al-Munawarrah.
Saat ini sumur ini dilengkapi juga dengan pompa listrik yang tertanam dibawah (electric submersible pump). Kita hanya dapat melihat foto-fotonya saja seperti diatas. Disebelah kanan ini adalah drum hidrograf, alat perekaman perekaman ketinggian muka air sumur Zamzam (Old style drum hydrograph used for recording levels in the Zamzam Well).
Kandungan mineral
Tidak seperti air mineral yang umum dijumpai, air Zamzam in memang unik mengandung elemen-elemen alamiah sebesar 2000 mg perliter. Biasanya air mineral alamiah (hard carbonated water) tidak akan lebih dari 260 mg per liter. Elemen-elemen kimiawi yang terkandng dalam air Zamzam dapat dikelompokkan menjadi
Yang pertama, positive ions seperti misal sodium (250 mg per litre), calcium (200 mg per litre), potassium (20 mg per litre), dan magnesium (50 mg per litre).
Kedua, negative ions misalnya sulphur (372 mg per litre), bicarbonates (366 mg per litre), nitrat (273 mg per litre), phosphat (0.25 mg per litre) and ammonia (6 mg per litre).

Molekul air zam zam

Kandungan-kandungan elemen-elemen kimiawi inilah yang menjadikan rasa dari air Zamzam sangat khas dan dipercaya dapat memberikan khasiat khusus. Air yang sudah siap saji yang bertebaran disekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah merupakan air yang sudah diproses sehingga sangat aman dan segar diminum, ada yang sudah didinginkan dan ada yang sejuk (hangat). Namun konon prosesnya higienisasi ini tidak menggunakan proses kimiawi untuk menghindari perubahan rasa dan kandungan air ini.
MAKIN banyak dokter dari berbagai penjuru dunia, termasuk kalangan nonmuslim, yang menganggap air zamzam sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Padanya terkandung sejumlah unsur yang dapat memberikan nilai tambah bagi kesehatan orang yang meneguknya.
Kendati secara fisik terlihat sama dengan air kemasan yang dijual di pasaran, ternyata struktur molekul air zamzam sangat berbeda saat dilihat melalui mikroskop elektron.
Percobaan pun sudah dilakukan beberapa dokter terhadap pasiennya, dan terbukti menghasilkan perubahan fisik ke arah yang lebih baik. Misalnya dalam kaitan selera makan, otot, dan suhu badan.
Pemerintah Arab Saudi, melalui tenaga laboratorium yang andal, pernah mengumumkan bahwa setiap satu liter zamzam mengandung klorida (159,75 mg), sulfat (140 mg), bikarbonat (398,22 mg), kalium (182,2 mg), kalsium (158,58 mg), serta natrium (318 mg).
Sedangkan dalam satu liter air kemasan yang dijual di pasaran terkandung 30 mg klorida, 27 mg sulfat, 32 mg bikarbonat, 3 mg kalium, 20 mg kalsium, dan 20 mg natrium. Makanya tidak heran apabila para peneliti sering menjadikan air zamzam sebagai referensi dalam menciptakan produk air kemasan.

Tanpa Zat Besi

Hasil analisa seorang ahli dari Indonesia pun bernada sama. Disebutkan, ada empat unsur kimiawi yang sangat penting pada zamzam, yaitu kalium (K), natrium (Na), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Namun, semuanya sangat berbeda dari unsur-unsur yang sama pada air kemasan.
Seperti diketahui, pada air biasa terdapat unsur besi (Fe). Meski sangat sedikit, tetap membayakan kalau melebihi ambang yang dipersyaratkan WHO. Zat ini tidak terdapat pada zamzam. Demikian juga Ca, di mana pada air biasa kadarnya sangat tinggi. Ingat, keduanya tidak baik bagi tubuh bila dikonsumsi secara berlebihan. Lain halnya dengan K dan Mg. Kalau pada air biasa jumlahnya minim sekali, pada air zamzam sebaliknya.
Penelitian tidak hanya berhenti pada ranah zat-zat kimia. Para pakar, meski harus mengeluarkan biaya besar, juga meneliti bagaimana perjalanan air zamzam ketika sudah diminum; mulai dari tenggorokan sampai ginjal.
Sungguh fantastis. Hadits Rasulullah tentang khasiat air zamzam ternyata merangsang para akademisi untuk meneliti, dan ternyata sangat pas. Kabarnya penelitian masih akan terus berlanjut.
Tujuannya tentu bukan untuk merekayasa air serupa zamzam, tapi mencari sisi-sisi inspirasi. Artinya, siapa tahu dari riset ini akan muncul pemikiran, penelitian, dan percobaan yang ujung-ujungnya meningkatkan kesejahteraan manusia?

Mengenal Jenis-jenis Haji dan Miqatnya

Mengenal Jenis-jenis Haji dan Miqatnya


masjid Abyar Ali(Bir Ali)
Seorang calon jamaah haji, sudah seharusnya mengenali jenis-jenis haji dan miqatnya. Agar dia bisa melihat dan memilih, jenis haji apakah yang paling tepat baginya dan dari miqat manakah dia harus melakukannya.

Jenis-jenis Haji
Berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih dari Nabi shallallah ‘alahi wa sallam, ada tiga jenis haji yang bisa diamalkan. Masing-masingnya mempunyai nama dan sifat (tatacara) yang berbeda. Tiga jenis haji tersebut adalah sebagai berikut:

1. Haji Tamattu’
Haji Tamattu’ adalah berihram untuk menunaikan umrah di bulan-bulan haji (Syawwal, Dzul Qa’dah, 10 hari pertama dari Dzul Hijjah), dan diselesaikan umrahnya (bertahallul) pada waktu-waktu tersebut1. Kemudian pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah) berihram kembali dari Makkah untuk menunaikan hajinya hingga sempurna. Bagi yang berhaji Tamattu’, wajib baginya menyembelih hewan kurban (seekor kambing/sepertujuh dari sapi/sepertujuh dari unta) pada tanggal 10 Dzul Hijjah atau di hari-hari tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzul Hijjah). Bila tidak mampu menyembelih, maka wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji (boleh dilakukan di hari tasyriq2. Namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya.

2. Haji Qiran
Haji Qiran adalah berihram untuk menunaikan umrah dan haji sekaligus, dan menetapkan diri dalam keadaan berihram (tidak bertahallul) hingga hari nahr (tanggal 10 Dzul Hijjah). Atau berihram untuk umrah, dan sebelum memulai thawaf umrahnya dia masukkan niat haji padanya (untuk dikerjakan sekaligus bersama umrahnya). Kemudian melakukan thawaf qudum (thawaf di awal kedatangan di Makkah), lalu shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim. Setelah itu bersa’i di antara Shafa dan Marwah untuk umrah dan hajinya sekaligus dengan satu sa’i (tanpa bertahallul), kemudian masih dalam kondisi berihram hingga datang masa tahallulnya di hari nahr (tanggal 10 Dzul Hijjah). Boleh pula baginya untuk mengakhirkan sa’i dari thawaf qudumnya yang nantinya akan dikerjakan setelah thawaf haji (ifadhah). Terlebih bila kedatangannya di Makkah agak terlambat dan khawatir tidak bisa tuntas mengerjakan hajinya bila disibukkan dengan sa’i. Untuk haji Qiran ini, wajib menyembelih hewan kurban (seekor kambing, sepertujuh dari sapi, atau sepertujuh dari unta) pada tanggal 10 Dzul Hijjah atau di hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzul Hijjah). Bila tidak mampu menyembelih, maka wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji (boleh dilakukan di hari tasyriq, namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya.

3. Haji Ifrad
Haji Ifrad adalah melakukan ihram untuk berhaji saja (tanpa umrah) di bulan-bulan haji. Setiba di Makkah, melakukan thawaf qudum (thawaf di awal kedatangan di Makkah), kemudian shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim. Setelah itu bersa’i di antara Shafa dan Marwah untuk hajinya tersebut (tanpa bertahallul), kemudian menetapkan diri dalam kondisi berihram hingga datang masa tahallulnya di hari nahr (tanggal 10 Dzul Hijjah). Boleh pula baginya untuk mengakhirkan sa’i dari thawaf qudumnya, dan dikerjakan setelah thawaf hajinya (ifadhah). Terlebih ketika kedatangannya di Makkah agak terlambat dan khawatir tidak bisa tuntas mengerjakan hajinya bila disibukkan dengan kegiatan sa’i, sebagaimana haji Qiran. Untuk haji Ifrad ini, tidak ada kewajiban menyembelih hewan kurban. (Disarikan dari Dalilul Haajji wal Mu’tamir, terbitan Departemen Agama Saudi Arabia hal. 15,16, & 19, dan www.attasmeem.com, Manasik Al-Hajj wal ‘Umrah, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin)

Jenis Haji Apakah yang Paling Utama (Afdhal)?

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Berdasarkan penelitian, maka keutamaan tersebut tergantung pada kondisi orang yang akan melakukannya. Jika dia safar untuk umrah secara tersendiri (lalu pulang), kemudian safar kembali untuk berhaji, atau dia bersafar ke Makkah sebelum bulan-bulan haji untuk berumrah lalu tinggal di sana, maka para ulama sepakat bahwa yang afdhal baginya adalah haji Ifrad. Adapun jika dia bersafar ke Makkah pada bulan-bulan haji untuk melakukan umrah dan haji (sekali safar) dengan membawa hewan kurban, maka yang afdhal baginya adalah haji Qiran. Dan bila tidak membawa hewan kurban maka yang afdhal baginya adalah haji Tamattu’.” (Lihat Taudhihul Ahkam juz 4, hal. 60)
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa haji Tamattu’ lebih utama dari semua jenis haji secara mutlak. Bahkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berpendapat bahwa hukum haji Tamattu’ adalah wajib, sebagaimana dalam kitab beliau Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (hal. 11-17, cet. ke-4). Namun demikian, beliau rahimahullah mengatakan: “Mungkin ada yang berkata, ‘Sesungguhnya apa yang engkau sebutkan tentang wajibnya haji Tamattu’ dan bantahan terhadap yang mengingkarinya, sangatlah jelas dan bisa diterima. Namun masih ada ganjalan manakala ada yang mengatakan bahwa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun justru melakukan haji Ifrad. Bagaimanakah solusinya?’ Jawabannya: ‘Dalam bahasan yang lalu telah kami jelaskan bahwasanya haji Tamattu’ itu hukumnya wajib, bagi seseorang yang tidak membawa hewan kurban. Adapun bagi seseorang yang membawa hewan kurban, maka tidak wajib baginya berhaji Tamattu’. Bahkan (dalam kondisi seperti itu) tidak boleh baginya untuk berhaji Tamattu’. Yang afdhal baginya adalah haji Qiran atau haji Ifrad. Sehingga apa yang telah disebutkan bahwa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun berhaji Ifrad, dimungkinkan karena mereka membawa hewan kurban. Dengan demikian masalahnya bisa dikompromikan, walhamdulillah.” (Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal. 18-19)

Miqat Haji
Miqat haji ada dua macam:

1. Miqat zamani: Yaitu batasan-batasan waktu di mana dilakukan ibadah haji. Batasan waktu tersebut adalah bulan-bulan haji (Syawwal, Dzul Qa’dah, dan 10 hari pertama dari bulan Dzul Hjjah). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُوْمَاتٌ

“Haji itu pada bulan-bulan yang telah ditentukan.” (Al-Baqarah: 197)

2. Miqat makani: Yaitu sebuah tempat yang telah ditentukan dalam syariat, untuk memulai niat ihram haji dan umrah.
Miqat Makani tersebut ada lima3, yaitu:
Pertama: Dzul Hulaifah (sekarang dinamakan Abyar ‘Ali atau Bir ‘Ali). Tempat ini adalah miqat bagi penduduk kota Madinah dan yang datang melalui rute mereka. Jaraknya dengan kota Makkah sekitar 420 km.
Kedua: Al-Juhfah. Tempat ini adalah miqat penduduk Saudi Arabia bagian utara dan negara-negara Afrika Utara dan Barat, serta penduduk negeri Syam (Lebanon, Yordania, Syiria, dan Palestina). Jaraknya dengan kota Makkah kurang lebih 208 km. Namun tempat ini telah ditelan banjir, dan sebagai gantinya adalah daerah Rabigh yang berjarak kurang lebih 186 km dari kota Makkah.
Ketiga: Qarnul Manazil (sekarang dinamakan As-Sail), yang berjarak kurang lebih 78 km dari Makkah, atau Wadi Muhrim (bagian atas Qarnul Manazil) yang berjarak kurang lebih 75 km dari kota Makkah. Tempat ini merupakan miqat penduduk Najd dan yang setelahnya dari negara-negara Teluk, Irak (bagi yang melewatinya), Iran, dll. Demikian pula penduduk bagian selatan Saudi Arabia yang berada di seputaran pegunungan Sarat.
Keempat: Yalamlam (sekarang dinamakan As-Sa’diyyah), yang berjarak kurang lebih 120 km dari kota Makkah (bila diukur lewat jalur selatan Tihamah). Ini adalah miqat penduduk negara Yaman, Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya.
Kelima: Dzatu ‘Irqin (sekarang dinamakan Adh-Dharibah), yang berjarak kurang lebih 100 km dari kota Makkah. Ini adalah miqat penduduk negeri Irak (Kufah dan Bashrah) dan penduduk negara-negara yang melewatinya. Awal mula direalisasikannya Dzatu ‘Irqin sebagai miqat adalah di masa khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab. Yaitu ketika penduduk Kufah dan Bashrah merasa kesulitan untuk pergi ke miqat Qarnul Manazil, dan mengeluhkannya kepada khalifah. Mereka pun diperintah untuk mencari tempat yang sejajar dengannya. Dan akhirnya dijadikanlah Dzatu ‘Irqin sebagai miqat mereka dengan kesepakatan dari khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, yang ternyata mencocoki sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma. (Lihat Taudhihul Ahkam juz 4, hal. 43-48, Asy-Syarhul Mumti’ juz 4, hal. 49-50, Irwa`ul Ghalil, juz 4 hal. 175)
Wallahu a’lam.

1 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Seseorang dikatakan berhaji tamattu’, ketika dia datang ke Baitullah untuk berumrah (di bulan-bulan haji, pen.) kemudian tinggal di sana (di Makkah) untuk menunaikan hajinya (di tahun itu).” (Mansak Al-Imam Ibni Baz, hal. 39)

2 Berdasarkan riwayat Al-Bukhari, dari ‘Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membolehkan bershaum di hari Tasyriq kecuali bagi seseorang yang berhaji (Tamattu’/Qiran, pen.) dan tidak mampu menyembelih hewan kurban. (Lihat Irwa`ul Ghalil, juz 4 hal. 132, dan keterangan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Manasik Al-Hajji wal ‘Umrah)

3 Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan Al-Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1811, dan penentuan khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tentang Dzatu ‘Irqin yang terdapat dalam riwayat Al-Bukhari no. 1531 yang mencocoki sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma. (Lihat Irwa`ul Ghalil, juz 4 hal. 175)

GRAND ZAM ZAM MEKAH


Zam-zam Tower Gantikan Hotel Hilton

image
SM/dok MEGAH: Perspektif gedung Zam-zam Tower.(30)
BERUNTUNGLAH jamaah haji khusus (ONH Plus-Red) yang musim haji tahun ini bisa menempati Hotel Zam-zam Tower (Buruj Zam-zam). Hotel termegah yang ada di Kota Makkah saat ini. Menurut pengamatan saya, dalam proyek perluasan halaman Masjidil Haram seluas 360.000 meter persegi, hanya ada tiga bangunan yang jaraknya berdekatan dengan Masjidil Haram.

Jaraknya mungkin hanya satu hingga lima meter saja dari pelataran Haram. Yaitu Istana Raja di Jabal Qubaisy di arah timur Masjidil Haram, Hotel Hilton dan Hotel Darul Al-Tauhid di arah barat. Sayangnya saya tidak bisa mendapatkan informasi Biro Penyelenggara Haji Khusus mana yang menempati hotel yang belum jadi seluruhnya itu.

Kali kedua saya menunaikan ibadah haji tahun 2003, Hotel Hilton baru berupa tiang pancang. Tetapi saat menunaikan umrah belum lama ini Zam-zam Tower sudah terlihat kemegahannya meski belum rampung seratus persen. Sejalan dengan proyek perluasan halaman masjid, saya melihat ribuan pekerja siang malam bekerja menyelesaikan bangunan tersebut.

Satu-satunya sumber informasi yang bisa menjelaskan tentang Zam-zam Tower adalah H Mukhlisin, santri Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Lasem, Rembang yang kini jadi pengusaha sukses di Arab Saudi. Nama asli gedung itu sebenarnya Wakaf Malik Abdul Aziz. Setidaknya ada lima hotel yang lokasi jadi satu di tempat itu. Yaitu Grand Zam-zam Tower, Rotama, Moven Pick dan Formus. Nama Zam-zam sendiri tentu diambil bukan tanpa alasan. Nama sebuah sumur yang airnya tidak pernah kering mesti diambil jutaan orang dan dibawa ke seluruh penjuru dunia, juga tidak membuat banjir ketika debit airnya berlebih. Maka nama Grand Zam-zam Tower begitu mudah diingat terutama oleh jamaah haji dan umrah.
Gantikan Hilton Menurut Mukhlisin, Hotel Hilton Tower yang kami tempati saat umrah tidak lama lagi juga akan digempur setelah Zam-zam Tower jadi sempurna. ”Jadi anda semua menempati Hilton untuk terakhir kali. Mudah-mudahan tahun depan belum digusur,” kata Mukhlisin yang asli Jepara itu.

Menurutnya hotel itu akan menjadi bangunan tertinggi di Kota Makkah. Ribuan pekerja siang dan malam tampak sibuk mengerjakan proyek raksasa itu. Mereka berseragam pakaian warna ungu gelap bertuliskan ”Saudi bin Laden Group.”Mereka menggarap bidangnya masing-masing, mulai yang paling ringan hingga yang paling berat. Hiruk pikuk bunyi alat-alat berat pun semakin menyibukkan Kota Suci itu.

Beberapa menit menjelang azan, mereka beristirahat, untuk shalat berjamaah di Masjidil Haram. Setelah makan siang, mereka kembali bekerja, bahkan pengerjaan proyek ini dilakukan siang malam. karena memang awalnya Hotel Zam-zam Tower ini ditargetkan dapat selesai musim haji tahun lalu.

Seorang buruh bangunan berkebangsaan Pakistan milik group ”Saudi bin Laden menuturkan upahnya perbulan sebagai pekerja kasar sebesar 900 s.d 1200 real (atau sekitar Rp 2.25 juta sampai Rp 3 juta perbulan).

Uang sebesar itu bersih, karena mereka mendapat uang makan siang sebesar 6 Real dan jaminan keselamatan dari Bin Laden. Selain itu, mereka mendapatkan pemondokan gratis dan jaminan visa dari Group ”Saudi bin Laden” sebagai kafil, tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan sebagaimana yang dialami para TKI kita.

Kemegahan towernya sangat mengagumkan. Menjulang tinggi dengan 70 lantai di atas tanah seluas 70.000 meter persegi. Dari gedung yang dilengkapi berbagai peralatan canggih ini, kita dapat menyaksikan kegiatan jamaah yang sedang tawaf di Kakbah. Usai tawaf para jemaah dapat pula berbelanja di Zam-zam Tower. Selain menjadi Hotel Gedung Wakaf Malik Abdul Aziz ini juga dijadikan apartemen mewah.

”Muga-muga dalam waktu dekat kita bias kembali ke Tanah Suci dan menempati Zam-zam Tower ini, amin,” kata KH Syamíani dari Pekalongan yang satu rombongan dengan Majelis Zikir SBY Nurussalam itu. Saat ini pusat perbelanjaan mewah yang berdekatan dekat Masjidil Haram adalah Bin Dawood yang ada di lantai dasar Hotel Hilton.
Ganti Rugi Dalam rangka perluasan halaman Masjidil Haram seluas 360.000 meter persegi itu, kabarnya Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan dana mencapai 60 Triliun real. Ini baru untuk ganti untung tanah. Belum lagi biaya untuk membangun dan menata kembali kawasan Masjidil Haram.

”Di Saudi tidak ada ganti rugi, yang ada ganti untung. Sebab mereka yang tergusur hotel dan tanahnya untuk perluasan malah untung tidak rugi. Tidak seperti di Indonesia,” kata Mukhlisin sambil tertawa.

Sejumlah gedung dan hotel, sampai musim haji tahun ini sudah lenyap alias rata dengan tanah. Terlebih, wilayah Pasar Seng dari sebelah utara sampai sebelah barat daya: wilayah Gazzah, Raqubah (Pasar Seng), Gararah, Falaq Syamiyah dan Jabal Hindi.

Pemerintah Arab Saudi tak pernah berhenti membangun infrastruktur untuk melayani tamu-tamu Allah setiap tahunnya. Dari pembenahan fasilitas Masjidil Haram, Masjid Nabawi, jalan-jalan layang dan juga hotel-hotel bertingkat di sekitar tanah Haram terus digalakan.

Menurut Mukhlisin, setelah Grand Zam-zam Tower jadi akan dilanjutkan dengan penataaan kawasan di Masjidil Haram. Nantinya kemegahannya tidak kalah dengan New York dan London.

Menurutnya, Raja Abdullah ingin mengikuti apa yang telah dilakukan kakaknya Raja Fahd. Jika kakaknya telah membangun berbagai fasilitas sehingga Masjidil Haram dan sekitarnya menjadi megah, maka dia ingin berbuat yang sama, kalau bisa lebih dari itu.

Makanya sejak Februari lalu kawasan sekitar Masjidil Haram dihancurkan. Pasar Seng yang terkenal bagi masyarakat Indonesia diratakan dengan tanah. Hotel-hotel megah termasuk Hotel Sheraton Makkah juga dirobohkan.

Selain stan-stan di Pasar Seng, toko-toko yang berjajar di sepanjang depan pintu Al-Fatah juga bernasib sama: ikut dibongkar. Itu yang membuat tempat-tempat belanja murah meriah kian berkurang. Bahkan, tahalul (potong rambut) di sekitar bukit Marwah sudah tidak ada lagi barber shop. Khusus untuk tahalul, para tukang cukur rambut boyongan di belakang Hotel Darul Al-Tauhid.
Toko-toko yang tersisa hanyalah yang berada di barat Masjidilharam. Tepatnya, di sekitar Zam-zam Tower, Hotel Hilton, dan terminal baru yang berada di kiri Hilton. Toko itu berdiri di kanan dan kiri jalan menuju masjid. Segala macam barang dijual di sana. Mulai cenderamata, perlengkapan salat, pakaian, hingga barang elektronik.

Meski Pasar Seng digusur, jamaah haji dan umrah jangan khawatir gak bias beli oleh-oleh, Jamaah bisa memilih belanja di pagi buta. Tepatnya, setelah bubaran salat Subuh. Lokasi belanja itu berada di tengah jalan antara Hotel Hilton dan Zam-zam Tower. Berbagai barang digelar di atas alas sekadarnya dan gerobak. Barang-barang buatan China tampak mendominasi. Mulai elektronik seperti jam tangan hingga songkok dan tasbih.

Tapi kalo boleh menyarankan, konsentrasilah dulu menghadapi puncak haji yaitu hari "H" wukuf di Arafah yang tinggal beberapa hari lagi. Perbanyak ibadah dan kurangi kegiatan yang kurang bermanfaat. Mudah-mudahan menjadi haji mabrur, amin. (Agus fathuddin Yusuf-60)


SUMBER : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/12/01/41684/Zam-zam-Tower-Gantikan-Hotel-Hilton

TATA CARA MEMAKAI IHRAM

Cara Memakai Pakaian Ihram Pria

Photoku di Arafah 1426H

Cara menggunakan pakaian ihram pria saat ini banyak versi atau cara, yang kesemuanya tentunya didasarkan atas kebiasaan yang dicontohkan oleh orang-orang sebelum kita. Pada intinya pemakaian kain ihram khususnya bagi kaum pria haruslah memperhatikan hal-hal comfort/nyaman dan aman sehingga tidak mudah terbuka yang tentunya akan berakibat fatal (maklumlah kaum pria ketika ihram kan...dilarang memakai pakaian dalam).

Ada beberapa referensi yang bisa Anda gunakan, dan silahkan Anda pilih sesuaikan dengan selera dan kemudahan menggunakannya.Jika Anda berminat, silahkan
Sedangkan untuk kaum hawa tidaklah rumit, hanya yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh menutup wajah dan telapak tangan.


Monorel Makkah-Armina Siap Beroperasi Tahun Ini

Jenis Kereta Monorel
Alhamdulillah, jama’ah haji pada tahun ini sudah bisa menikmati layanan transportasi kereta metro monorel (Qithar Almasyair)  yang pada tahap pertamanya akan menghubungkan Arafat dan Muzdalifah (South-East Lilne) . Pemerintah Arab Saudi telah menyelesaikan tahap pertama jalur kereta metro yang mampu mengangkut penumpang sejumlah 70.000 jamaah dalam satu kali perjalanan. Dengan kapasitas sekitar 35% dari kapasitas totalnya sebesar 180.000 – 200.000 jamaah yang akan siap pada tahun depan tersebut maka layanan monorel tahun ini hanya akan dikhususkan kepada jemaah asal Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya.


Stasiun Monorel

Monorel ini tergolong proyek transportasi besar yang dilakukan pemerintah Arab Saudi yang menunjukkan komitmen tingginya terhadap pelayanan jamaah haji. Bekerjasama dengan Perancis dan Cina , Proyek monorel ini akan memiliki  sembilan stasiun kereta api antara Mekkah, Arafat, Mina dan Muzdalifa, setiap 300 meter panjang. Salah satu stasiun akan terletak dekat Jembatan Jamarat di Mina di mana ritual lempar jumrah akan. Para jamaah  akan dapat langsung mengakses ke stasiun melalui jembatan di lantai empat. Setiap kereta akan memiliki 12 kompartemen besar yang masing-masing panjangnya 23 meter dan lebar 3 meter.


Rute Monorel Arafah-Muzadalifah- Mina-Makkah

Inisiatif untuk membangun jalur kereta api ini digagas pada tahun 2007 lalu dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dari dan ke kota Makkah serta tempat-tempat suci lainnya di kota Makkah selama musim haji dan diharapkan bisa mengurangi angka kecelakaan dan desak-desakan para jama’ah haji yang kadang menimbulkan korban jiwa. Arab Saudi mengalokasikan anggaran sebesar 7 milyar Riyal untuk membangun proyek jalur kereta api pertama itu.  Dengan adanya jalur kereta metro ini, maka Arab Saudi menjadi negara Teluk kedua yang memiliki sistem transportasi kereta metro setelah Dubai.
Subhanallah semakin mudah saja transportasi bagi Anda yang beruntung terpilih menjadi Duyufurrahman (tamu Allah). Semoga fasilitas ini dapat menambah semangat bagi Anda untuk tahun ini atau tahun depan berangkat ibadah haji . Tunggu apa lagi ? Silahkan mendaftar di  Armina Tour 
  ::: ArminaUtama - Divisi Perwakilan Indonesia © 2011 - All Right reserved :::